SEBA PERJALANAN RITUAL SANG PENJAGA

SEBA PERJALANAN RITUAL SANG PENJAGA

Tulisan ini di muat di Majalah TOP edisi Juli 2017

Pada edisi sebelumnya penulis telah membahas pesan – pesan yang ingin di sampaikan pada upacara seba masyarakat Baduy di Pendopo Kabupaten Lebak, di mana salah satu pesanya adalah menjaga kelestarian lingkungan alam sekitar untuk keberlangsungan umat manusia. Sesuai janji, kali ini penulis akan mengetengahkan topic mengenai alasan di adakannya upacara seba di tinjau dari sudut pandang teori social yang ada.

Dalam masyarakat Baduy di kenal istialah “ngasuh ratu, ngajayakeun menak” yang maksudnya mengasuh ratu dan membimbing orang-orang mulia atau para pembesar. Di Kanekes tidak ada ratu dan menak, kedua posisi itu hanya ada di kota ( yang di maksud adalah adipati atau kerisedanan yang saat ini sudah berganti jadi bupati atau gubernur). Karena petuah itu masyarakat Baduy merasa menjaga dan membimbing para pembesar merupakan sebuah kewajiban yang harus di emban, bimbingan tentu saja bersiat spiritual melalui upacara dan doa. Itulah sebabnya mereka meyelenggarakan Seba.

Perjalanan Seba di tempuh dengan berjalan sejauh puluhan kilo meter dengan membawa hasil bumi menuju pendopo Bupati Lebak. Ritual ini dibagi dua kloter, Baduy Dalam akan berjalan kaki, sedangkan Baduy Luar yang sudah terkontaminasi  teknologi  pergi dengan menggunakan angkutan yang sudah di sediakan. Acara Seba sendiri juga dibagi dua, Seba Kecil dan Seba Besar.

Tidak ada perbedaan yang mencolok antara seba kecil dengan seba besar. Perbedaannya hanya pada barang bawaan, kalau Seba kecil hanya membawa hasil bumi, sementara seba besar di tambahkan membawa peralatan dapur. Simbol utama dari setiap Seba adalah pemberian Laksa ke Bapak atau Ibu Gede. Laksa adalah olahan padi terbaik dari setiap kampung di Kanekes. Di Laksa konon terdapat semua inti dari aspirasi masyarakat Baduy diberikan ke pemerintah agar paham kondisi yang terjadi di Kanekes.

Upacara seba menjadi sangat berarti bagi masyarakat Baduy, mereka meninggalkan rutinitas harianya demi untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan Bapak atau Ibu Gede. Bapak atau Ibu Gede merujuk kepada Bupati Lebak. Silaturahami ini bukan silaturahmi biasa melainkan perpaduan dua sisi yang saling bersinggungan antara komunikasi dan kebudayaan.

Saidi Putra, salah satu jaro tanggungan dua belas kepada penulis menyatakan seba ini akan tetap diadakan meski pisau sudah di leher. Keteguhan masyarakat Baduy dalam menjalankan seba tentu tak bisa di pisahkan dari nilai nilai spiritual yang terpatri dalam kehidupan masyarakat Baduy.

Banyak simbol yang di tunjukan pada saat ritual seba berlangsung, simbol- simbol ini perlu di tafsirkan lebih dalam. Salah satu tafsiran dari Isnendes (2016:49) “ bisa dikatakan sebagai kegiatan mengirim “upeti” sebagai bentuk pengakuan sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di Kabupaten Lebak”

Isitilah ‘upeti” tentus saja akan ditolak oleh masyarakat Baduy atau bahkan Pemerintah Kabupaten Lebak dan Proponsi Banten sendiri. Upeti memiliki makna yang berkonotasi negative dan tak sesuai lagi dengan perkembangan jaman. Terlepas dari itu semua, Seba Baduy menjadi bentuk etnkomunikasi simbolik antara antara kedua belah pihak.

Merujuk kepada salah satu teori pemberian, salah satunya  menurut Mauss (1992)  dalam buku Pemberian, Bentuk dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat Kuno. mengemukakan bahwa “ pada dasarnya tidak ada pemberian yang cuma – cuma atau gratis. Segala bentuk pemberian selalu di ikuti kembali atau imbalan”

Kebiasan saling memberi merupakan proses social yang dinamis dan melibatkan keseluruhan anggota masyarakat sebagai system yang menyeluruh. Proses dinamik tersebut terwujud melalui hakikat saling memberi yang mengharuskan sipenerima untuk melebihi pengembalian pemberian. Hal ini mencerminkan adanya persaingan kedudukan dan kehormatan dari pihak yang bersangkutan.

Upaya saling memberi menurut Mauss (1992)  sebagai prestasi    ( pretation) yaitu nilai barang menurut nilai nilai makna yang berlaku dalam masyarat yang bersangkutan, bukan barang harfiahnya yang menjadi nilai tersebut.

Sepertinya kita harus mengabaikan teori ini, penulis lebih yakin kepada istialah “ngasuh ratu, ngajayakeun menak” , inilah yang justru menjadi cikal bakal mereka teguh untuk mengadakan upacara seba. Istialah “ngasuh ratu, ngajayakeun menak” mempunyai latar belakang sejarah yang panjang dari salah satu versi asal mula kehidupan masyarakt Baduy menurut ahli sejarah.  Mungkin saja benar bahwa masyarat baduy adalah dulunya pengikut setia Prabu Siliwangi yang dahul melarikan diri ke daerah lebak karena menolak ajakan masuk islam dari putranya Prabu Kian Santang.

Jadi masyarakat Baduy bukan warga biasa, mereka adalah para abdi kerajaan dan itu masih terlihat dalam kehidupan sehari hari dalam kehidupan mereka. Lihatlah ketika seba, sangat sulit menekuan warga baduy saling bercanda atau mengobrol satu sama lain. Yang ada mereka tertib dan rapi, ini mengingatkan kita kepada kehidupan di dunia militer.

Seba bukan “upeti” melainkan bentuk penghormatan dari kearifan sebuah kebudayaan yang menjunjung tinggi nilai nilai kesetiaan. Sebuah nilai yang saat ini di kehidupan sehari hari kita justru sering di ramaikan oleh hal hal yang mendegradasi.  Lihatlah media social kita yang penuh hujatan kepada Pemerintah tak melakukan cek dan kroscek terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.

Kembali ke istialah “ngasuh ratu, ngajayakeun menak” sudah menjadi keharusan sebagi warga anak bangsa, kita semua menjaga dan memuliakan para pemimpin kita termasuk pemimpin pemerintahan.

Rujukan :

Maus, Marcel.1992. Pemberian, Bentuk dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat Kuno. Penjerjemah, Parsudi Suparlan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Isnendes, Retty. “Upacara Seba Baduy: Sebuah Perjalanan Politik Masyarakat Adat

            Sunda Wiwitan.” Jurnal Masyarakat dan Budaya 18.2 (2016): 47-58.

 

Write a Comment

Register

You don't have permission to register