Senja Terakhir Dibulan April

Senja Terakhir Dibulan April

Dari pojokan jendela yang sejurus kemudian sepi dan beku, hanya sesekali angin menghempas daun-daun kering. Lainnya adalah sore yang teramat biasa, segurat awan kuning di ujung barat kemudian disapu malam. Hilang sirna.

Namun sepertinya tidak dengan senja dipenghujung April ini, jam berdetak dengan begitu sangat lamban. Bahkan sesekali terasa berputar terbalik untuk mengulang hari.

Tipis saja ternyata jarak antara suka dan kedukaan, atau mungkin memang mereka bisa bersatu, bersuka dalam duka atau sebaliknya. Panggilan itu ibarat rangkain hujan badai dari pulai api yang seluruh senja. Senja kini benar-benar merah dan terbakar.

I’il remember April

Ya sore itu aku memutuskan untuk pergi, pergi yang tak terlalu jauh namun tak akan pernah kembali untuk waktu yang dekat. Pergi dengan memutuskan segala ikatan cerita, ya… Aku resign dari tempat kerja yang hampir tujuh tahun dilakoni.

Suka dan duka sudah bukan cerita lagi, bahkan tak cukup kata untuk diuraikan. Menyandang gelar sebagi penangguran bukanlah hal yang mudah, apalagi bergelar Sarjana. Ah rasanya seluruh mata memandang sinis, memandang hina dan nista.

Seperti dedaunan terhempas angin, aku benar-benar tak tau hendak kemana lagi, hanya mengikut arah saja.

Seperti bersandar pada ranting-ranting yang rapuh, satu persatu teman mulai berguguran. Janji manis dan penuh pengharapan hanya lah hiasan dibibir semesta.

Hari-hari tak ubahnya seperti jalanan penuh lumpur, terasa berat dan melelahkan. Sesak luar biasa dada menjalani hari-hari, seribu langkah telah ditempuh namun gagal dan gagal saja yang ada. Pernah berfikir akan kembali mendaoat pekerjaan ketika teman waktu sekolah dulu menawarkan satu pekerjaan, kukira dia akan benar-benar membantu ternyata sia-sia saja.

Write a Comment

Register

You don't have permission to register