Yang Ziarah Dijalan Malioboro

Yang Ziarah Dijalan Malioboro

Ini perjalanan ziarah yang bisa jadi mungkin ziarah pertama sekaligus ziarah yang terakhir, berkunjung ke jalan Malioboro yang legendaris nan eksotik itu. Ziarah yang begitu berbekas nan sukar untuk dilupakan.

Kunamai ziarah ‘vacancy’ ini, karena sesungguhnya ini bukan sedang berlibur kemudian menikmati keindahan kota Jogjakarta. Ini lebih seperti seseorang yang berdiri tertegun memandang kekosongan di tengah keramain. Bahkan lebih ekstrim lagi seperti seseorang yang sedang berdiri dipusara “dia”, orang yang dicintainya yang telah berbaring untuk selama-lamanya. Kemudian segala cerita mulai berkelebatan.

Ramainya jalanan tersasa menusuk, amat perih. Seperti segala apa menghantam hati ini terasa sesak dan hampir putus napas. pengap luar biasa. Bahkan lebih dari itu, rasanya seperti terbang kemudian di hempaskan dengan paksa. Terkapar dan tak berdaya.

Ziarah ini hakikatnya adalah pelarian dari dunia nyata yang teramat rumit. Pelarian bagi jiwa jiwa yang tak sanggup menerima kenyataan. Atau hendak mengabaikan kenyataan. Membiarkan waktu melukiskan sejarah, melukis cerita lain yang sedikit berbeda.

Malioboro makin malam makin hangat, tapi bagi diriku makin membeku dan menusuk terasa hingga kesumsum. Segala keramaian tak mampu menghiburku, gemerlap cahaya tak ubahnya bayangan masa lalu yang pada akhirnya hanya membuat segalanya makin menghimpit.

Seperti menyeret langkah dikegelapan, nyaris tanpa arah dan tujuan. Hanya sesekali cahaya lampu menyadarkan bahwa aku masih tertegun di pinggir jalan. Tak ingin menagisi kenyataan atau menyesalinya tapi tak terasa seperti ada kristal bening yang jatuh. Aku menagis setelah sekian lama tak pernah mengangis lagi. Bukan cengeng atau sentimentil dan sejenisnya. Aku rasa aku harus menangis.

*****—-

Ini tentang rasa yang tak kesampain, tentang rencana yang tak terurai dan yang pasti tentang waktu yang tak bisa kembali. Kemudian tentang penyesalan yang menyesakan jiwa. Rasa yang tak pernah bisa hilang meski segala apa dilakukan, penyesalan yang teramat dalam untuk sikap dan kebodohan juga kecerobobahan

Lalu ada juga tentang kecuekan dan keangkuhan yang lain. yang hanya ada saat diri ini sedang butuh saja. Padahal nyata dia begitu peduli dengan begitu tulus dan iklas tanpa pamrih.

Yang lainnya adalah tentang pencarian jejaknya yang pernah hilang dan tenggelam di sini. Atau tentang rasa yang begitu teramat dalam dan yang tak mungkin akan tersampaikan. Rasa yang jauh dari hingar bingar namun begitu tulus sehingga apa sahaja rela diberikan.

Yang terakhir adalah tentang mentertawakan kegilaan antara aku dan teman. Apa saja bisa di tertawakan dan apa saja bisa dikomentari. Lebihnya dia baik, peduli dan bisa menjaga privasi serta tidak banyak menuntut. Kurangnya seh dia plin-plan dan kadang labil juga suka menghitung- hitung makanan (suka komplain kalau makanannya diminta) dan suka ganggu gue tidur, nah kalo sudah begitu rasanya pingin gue tenggelamin aja di kali urang tuh anak.

Tapi walau bagaimanapun dia teman terbaik gue. Dan terimakasih untuk kali ini, perannya sebagaia orang tua cukup penuh penjiawaan

Selebihnya adalah tentang waktu dan moment dan yang pastinya rasa apa yang terjadi saat ini sulit sangat sulit untuk terulang dalam suasana seperti apapun. Hanya keajaiban saja yang bisa. Ziarah ini tak ubahnya seperti hari terakhir untuk melepas masa lajang karena setelah itu semuanya akan berubah dengan sangat drastis, ah… membayangkan ini seperti kembali menggores kulit dengan sembilu.

*****—-

Malioboro

Ah bukan kebahagian benar yang kudapat dari “ziarah’ ini, bahkan sebaliknya ini seperti terbangun dari mimpi singkat yang menyenangkan. Semuaya serba indah tapi nyaris tak bisa di sentuh apalagi di genggam. Jejak langkah yang terserak ini begitu mendalam dan sukar, teramat sukar untuk di urai.

Malioboro

Ijinkan aku mengukir nama indah ini di hati untuk selama-lamanya, tak akan menceritakan apapun tentangmu kepada siapaun. Aku telah jatuh cinta saat kita duduk-duduk memandang pesawat yang melintas di langit kita. Aku tak tahan untuk memelukmu saat senja benar-benar hendak turun dan aku begitu ingin memelukmu ketika malam mulai melangkah.

Biarkan saja apa yang telah terlewati ini menjadi percakapan hati…..

di bacakan pada senandung dinihari di Kereta Senjan Utama Solo

Write a Comment

Register

You don't have permission to register